Kamis, 06 Januari 2011

Keharmonisan Hidup

Islam mengajarkan kepada kita bahwa jalan hidup manusia terbagi menjadi dua jalur kehidupan, yaitu jalan hidup yang akan membawa keberuntungan dan yang akan membawa kerugian dan jatuh kejurang kenistaan dan kesengsaraan. Islam mengajarkan haq sebagai lawan kebatilan, kebenaran lawan kekeliruan, keadilan lawan kezaliman, ketaatan lawan kemaksiatan, keridaan Allah lawan kemurkaan-Nya, pahala lawan dosa dan surga jannatun a’im lawan ‘azabun alim, surga yang penuh kenikmatan lawan neraka yang sarat kesengsaraan.

Allahswt selalu memberi petunjuk-petunjuknya sepanjang zaman lewat para Nabi dan Rasul-Nya serta para penerus mereka, (yaitu para ‘ulama’ dan para du’at dan muballigin), agar seluruh umat manusia memilih jalan kebenaran dan menjauhi jalan kesesatan supaya mendapatkan kebahagiaan hidup lahir batin, dunia dan akhirat, lisa’adati ‘ddarain.

Allahswt mencela golongan manusia yang hanya bercita-cita, berusaha dan berjuang untuk memperoleh kesenangan dunia saja. Allah memperingatkan dengan firman-Nya :

“Maka di antara manusia ada yang berkata, “Ya Tuhan kami berilah kami kebaikan di dunia (ini),” dan tiadalah baginya bagian di akhirat”. (QS Al Baqarah 2 : 200).

Kemudian Allahswt memberi petunjuk agar manusia berfikir seimbang dan bertingkah laku yang seimbang pula. Bercita-cita memperoleh karunia yang cukup dan memperoleh kebahagiaan di dunia demikian pula di  akhirat kelak.

“Dan di antara mereka ada yang berkata, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan (berilah pula) kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari azab neraka”. (QS  Al Baqarah 2 : 2001).

Demikianlah Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar menata hidup dengan sebaik-baiknya, mensyukuri anugerah Allah dan pemberiannya dengan sebaik-baiknya. Sekali-kali tidak akan menyia-nyiakan anugerah-Nya, karena ia yakin janji Allahswt akan diberikan kepada setiap orang yang bersyukur kepada-Nya  adalah tambahan anugerah yang banyak.

“Dan ingatlah (tatkala) Tuhanmu memberitahukan, “Sungguh jika kamu bersyukur, niscaya Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkarinya, sungguh azab-Ku sangat keras”. (QS Ibrahim 14 : 7)

Tetapi marilah kita kaji makna syukur itu agar janji Allah akan melipat gandakan nikmat-Nya itu menjadi kenyataan.

Makna syukur ialah :
1.       Perasaan senang dan menerima dengan tulus anugerah Allah yang telah Allahswt berikan kepada kita,
2.       Dengan ikhlas pula menyatakan dan mengucapkan rasa syukur itu dengan lidah yang lahir dari hati,
3.       Mempergunakan anugerah Allahswt dengan sebaik-baiknya sesuai dengan kehendak pemberi. Dan tidak menyia-nyiakannya,
4.       Meningkatkan nilai dan harga pemberian Allahswt untuk diri sendiri dan orang lain,
5.       Mengelolanya dan mengembangkannya semaksimal mungkin.

Apabila kita perhatikan makna syukur itu kita pasti akan yakin janji Allah itu akan Dia penuhi, karena melakukan menejemen yang benar adalah suatu syarat berhasilnya suatu harapan, dan ketiadaan menejemen yang benar akan menyirnakan harapan.

Allah swt. bahkan menjanjikan akan menghindarkan dari azabnya. Allah berfirman :

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ???  Dan Allah adalah Maha mensyukuri lagi  Maha Mengetahui”. (QS An Nisa’  4 : 147).
    
Kebalikan dari mensyukuri nikmat Allah adalah mengkufuri nikmat, tentu saja dia adalah kebalikan dari makna bersyukur yang telah di sebutkan di atas, tentu akibatnya buruk kebalikan dari bersyukur.

Sebagai orang-orang yang beriman kepada Allah swt., dan beriman kepada Nabi Muhammad saw. sebagai utusan dan nabi Allah terakhir, pemeluk agama Islam, agama sempurna yang diridai Allah, maka kita harus selalu berfikir, berlaku dan bertindak sesuai dengan kebesaran agama yang kita peluk itu.

Marilah kita perhatikan firman Allah berikut ini :

“Dan  carilah  dengan  apa  yang  dianugerahkan  Allah kepada engkau  akan  negeri  akhirat dan janganlah engkau melupakan bagianmu  di  dunia,  dan  berbuat  baiklah  sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu janganlah engkau berbuat kerusakan di bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.  (QS Al Qasas 28 : 77)
       
Ayat tersebut di atas mukhatabnya (yang diajak bicara) adalah Rasulu ‘llah saw. dengan menggunakan domir engkau, tetapi tentu ayat tersebut juga untuk seluruh umat beliau, seluruh umat Islam. Kandungan ayat tersebut berisi dua perintah dan dua larangan secara bergantian,  yaitu :

1.     Perintah agar kita mencari anugerah yang telah dijanjikan dan telah disediakan Allah, yaitu kampung akhirat yang penuh kenikmatan yang tidak terkira banyaknya dan tak terlukiskan luasnya, yaitu kenikmatan yang kekal dan abadi, tiada akan putus selama-lamanya, disediakan untuk orang-orang yang beriman dan bagi seluruh keluarganya,

2.     Walaupun akhirat itu jika dibandingkan dengan seluruh kesenangan dunia dan segala keindahannya tidak ada artinya, namun dalam ayat ini Allah melarang orang-orang mukmin melupakan bagian dunia, karena dunia itu sebagai jembatan menuju akhirat, dunia adalah tempat menanam sedangkan akhirat adalah tempat menuai. Setiap muslim harus berkompetisi, berlomba merebut  dunia yang dihalalkan   Allah ini dengan sungguh-sungguh, dengan cara yang dibenarkan dan pada segala yang dihalalkan Allah menurut syari'at yang telah diperundangkannya,

3.     Perintah agar selalu berbuat kebaikan kepada sesama manusia dan alam seluruhnya ibaratanya seperti Allah telah mengatur alam semesta ini sebaik-baiknya dengan sifat kasih-sayang-Nya.  Berbuat baiklah dalam kehidupan dunia ini seperti Allah telah berbuat baik kepada Nabi Muhammad saw. dan tentu juga seperti Allah telah berbuat baik kepada  umatnya,

4.     Allah melarang berbuat kerusakan dalam segala bidang sistem kehidupan: Kehidupan sosial, budaya, tatanan alam, lingkungan hidup dan lebih utama adalah kehidupan manusia itu sendiri.


Apabila kita perhatikan dengan mendalam, maka empat hal tersebut adalah pokok dan landasan stabilitas, keserasian, keseimbangan dan keharmonisan hidup manusia dan alam. Maka hakikatnya ayat tersebut juga harus dimasyarakatkan untuk seluruh umat manusia, walau pun mereka belum masuk kedalam agama salam, agama damai dan rahmah yang dibawa Nabiyyu ‘rrahmah, Nabi akhir zaman ini. Kita yakin bahwa sebagian besar ajaran Islam, khususnya yang berkaitan dengan masalah dunia, ajaran Islam ini berlaku umum untuk seluruh umat manusia selama mereka menginginkan perdamaian dan kedamaian hidup. Namun mereka terlalu percaya kepada rasio, akal dan pemikiran mereka sendiri walaupun uji coba mereka sering kali telah menunjukkan kegagalan.

Islam tidak hanya mengajarkan hal-hal yang bersifat duniawi semata-mata, tetapi mengatur kehidupan duniawi dan ukhrawi, jasmani dan rohani secara seimbang, fi ‘ddunya hasanah wa fi ‘lakhirati hasanah. Ditambah lagi dengan bebas dari rasa takut dan dukacita di dunia, dan di akhirat bebas dari murka dan azab Allah Sub-hanahu wa Ta’ala.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar